RADIO GOBLOG

0 notes

Pecundang

Aku sedang memandangnya. Tertidur pulas dengan wajah polos. Begitu nyenyak. Seperti bayi yang telah mendapatkan botol susunya. Entahlah. Hal indah apa yang sedang dia impikan sekarang. Apapun itu, yang jelas satu; bukan aku.

Bola mataku terus tertuju kepadanya. Mengamati setiap centimeter wajahnya yang tengah dijamah cahaya samar. Kelopak matanya… Hidungnya… Bibirnya… Ah, aku sangat merindukannya. Ingin rasanya aku berbaring di sampingnya. Memeluknya erat seperti waktu itu, ketika aku dan dia sedang membalaskan dendam rindu. Rindu yang dihunuskan oleh jarak, yang menempatkan sepasang domba Isa di kota berbeda. Tapi tetap saja, semua sudah berubah. Aku dan dia, tak lagi sama.

Ironis. Saat ini kami sedang berada dalam satu ruangan. Raga kami begitu dekat dan tidak lagi dipisahkan oleh jarak. Tapi ajaibnya, aku dan dia, menjadi jauh. Sangat jauh. Bahkan lebih jauh dari sebelumnya ketika aku dan dia dipisahkan jarak Malang-Jakarta. Sementara itu aku tetap saja membeku dan bersandar di tembok dingin kamarnya. Merasakan hujaman rasa sakit yang seirama dengan denting jarum jam dinding. Di ruang remang ini, riuhnya seolah menjadi orkestra yang menjadi backsound scene drama. Sebuah adegan di mana seorang pejuang yang menjadi pecundang karena tak mampu melawan keadaan. Sebuah keadaan yang aku sebut: lelucon Tuhan. Karena bagaimana bisa, dalam waktu kurang dari 1 bulan, kata cinta bisa tak lagi bermakna. Janji yang aku anggap suci selama hampir 2 tahun, dia anggap sebatas sampah yang dihasilkan tarian lidah. Tanpa rasa bersalah, dia memutuskan berpaling meninggalkanku yang tengah terpuruk, yang tertatih berjuang hanya untuk sekedar bertahan hidup.

Jenuh. Itulah kata terbaik yang bisa dia pilih untuk dijadikan kambing hitam. Sebuah kata yang membuatnya menghalalkan sebuah pengkhianatan. Dia memilih seorang laki-laki yang menurutnya bisa menutupi kekuranganku yang tak mampu berada di sampingnya. Yang bagiku, hanya karena dia memiliki segalanya. Melebihi aku, yang hanya bisa mengucap rindu tanpa mampu bertemu, karena terlampau sibuk memikirkan cara menyambung hidup. Aku tak mampu lagi menahan rasa sakit ini. Andai saja ada morfin di sini, tanpa pikir panjang pasti akan ku suntikkan ke dalam darah agar saraf-sarafku tak lagi berfungsi, dan mampu membuatku mati rasa. Pasti akan jauh lebih baik.

Tanpa sadar, pendar cahaya mengisyaratkan sapaan Sang Fajar. Aku masih saja terjaga dan bersandar pada tembok dingin kamarnya. Masih tetap memandanginya. Pikiranku berkecamuk layaknya ada tawuran massal di dalam kepalaku. Aku harus segera mengambil keputusan. Karena jika terlalu lama, bisa saja, dinding jantungku tak mampu lagi menahan hentakan-hentakan rasa sakit setiap detiknya.

Sambil berpikir, aku terus memandanginya. Dia masih terlelap. Tiba-tiba muncul gambaran-gambaran kenangan ketika kami menghabiskan waktu bersama. Ketika aku memeluknya, menciumnya, atau ketika dia tersenyum menguatkanku. Fragmen-fragmen masa lalu itu semakin menekan dada, hingga seolah tak ada lagi ruang yang tersisa untuk udara. Aku merasa sesak. Akhirnya, setelah sejauh ini berjuang, setelah menebas jarak Malang-Jakarta, setelah mati-matian mengumpulkan benda terkutuk agar mampu datang ke kotanya, aku memutuskan pulang. Secara diam-diam aku membereskan barang-barangku dan memasukkannya ke dalam carier merah. Aku mengambil secarik kertas kemudian menuliskan beberapa kata yang secara tak langsung mengatakan: ‘aku kalah’. Karena memang nyatanya, dibandingkan keadaan, aku tak ada apa-apanya. Aku berjalan ke luar kontrakannya dan mencoba untuk tetap bernapas dalam setiap langkah kaki yang ku ambil. Aku harus tetap bernapas. Harus. Karena aku tak boleh mati di sini. Tidak di tempat ini.

Karena pada akhirnya, ini hanyalah salah satu lelucon Tuhan, yang membuat seorang pejuang, pulang sebagai pecundang.

 

 

- Jakarta, 24 Februari 2012.

 

Filed under Tulisan Yogiii

0 notes

Kepada kamu yg memilih pergi karena duniawi — Kelak, ketika aku di puncak, semoga kepalamu tidak sakit karena menyesal sambil mendongak.
DYF

0 notes

Untuk perempuan yang tetap bertahan disaat lelakinya tidak memiliki apa-apa, aku tak akan berpikir 2 kali untuk membahagiakannya.
DYF

Filed under Kata Yogi

0 notes

“Bila nanti aku tersenyum ketika menatap masa depan, tentu saat itu aku sedang memandangmu; tanpa kedipan.”

-DYF

“Bila nanti aku tersenyum ketika menatap masa depan, tentu saat itu aku sedang memandangmu; tanpa kedipan.”


-DYF

0 notes

Layang-layang Rindu

KRIIIIIIIIIIIINGGG!!!

Sontak mataku terbuka ketika mendengar dering yang memekakkan telinga. Dengan pandangan yang belum penuh, aku mencoba melihat rangkaian angka di layar handphone yang menjadi pengusik sepagi ini.

“085746xxxxxx.”

Ini… bunda.

“Halo..” kataku dengan suara berat layaknya orang yang baru bangun tidur. Namun tak ada jawaban. “Halo..” ulangku sekali lagi.

“Halo mas.” terdengar suara lirih anak kecil setengah menangis. Suara ini, aku sangat mengenalnya. Ini Kyant, adik bungsuku yang masih berusia 4 tahun. Namun kali ini suaranya sedikit berat, tidak lantang seperti biasanya. “Mas udah nyampek mana? Aku kangen loh.

Aku terkejut. Seketika mataku terbelalak. Ada apa Kyant meneleponku sepagi ini dengan setengah menangis? Dengan otak yang belum sepenuhnya bekerja, aku hanya bisa diam. Mencoba mencerna secepat mungkin sambil mengumpulkan nyawa yang sebagian masih tertinggal di alam lelap. Lalu tiba-tiba terdengar riuh suara handphone yang berpindah tangan.

“Halo le.”

“Iya, halo bunda.”

“Kamu baru bangun ya?”

“iya.”

Adekmu lagi sakit. Dari kemarin nanyain kamu terus. Katanya: Mas kapan datengnya bunda? Udah nyampe mana?

“Sakit?” Aku makin terkejut. Ini menjelaskan mengapa suara Kyant berbeda dari biasanya. “Sakit apa bunda?”

“Beberapa hari ini badannya panas. Udah bunda kasih obat. Tapi dia gak mau makan. Nanyain kamu terus. Coba, kamu ngomong sama dia.”

Lalu bunda memberikan handphonenya ke Kyant sambil menyuruhnya berbicara kepadaku.

“Halo mas. Mas udah nyampek mana?” Dia kembali mengulang pertanyaan yang sama. “Aku kangen loh mas.”

Aku tersentak ketika mendengarnya. Hentakan aneh ini seperti mampu membekukan waktu. Detak-detak detik turut membatu. Seolah, saat ini Tuhan sedang memegang remote dan menekan tombol pause.

Aku tak tahu harus berkata apa mendengar Kyant berkata “aku kangen loh mas”. Aku yang sedang duduk di sofa hijau tempatku memejamkan mata semalam, hanya bisa mematung. Mataku yang sebelumnya terbelalak kini tak terbuka selebar tadi. Tiba-tiba saja kantung kelopak mataku terisi penuh. Ada benda cair yang berusaha menekan keluar. Tetapi aku menahannya. Sekuat tenaga, terus menahan. Aku tak ingin peluh ini kembali luruh. Bebulir, kembali menghilir.

Rindu. Bahkan saat ini aku tak bisa mengenali rasa seperti apa yang bisa aku panggil dengan sebutan itu. Sudah terlampau dalam. Semacam dendam yang tak terbalaskan. Mungkin sudah kadaluarsa hingga serupa tiada. Sayangnya, rindu ini sungguh ada. Nyata.

Entah sudah berapa lama. Aku sudah lelah menghitung matahari terbit setiap pagi. Berharap, ketika nanti terbenam, ada tangan mereka untuk ku genggam. Namun nyata selalu kejam. Yang kudapati hanyalah temaram.

Lalu harus kepada siapa aku menyalahkan? Takdir? Keadaan? Atau… Tuhan?

Persetan dengan apapun atau siapapun yang salah. Yang aku tahu, aku merindukan mereka. Lebih dari sekadar kata ‘sangat’. Bagaimana bisa, dengan angkuhnya jarak mampu memisahkan seorang anak dari orang tuanya. Seorang kakak dari adik-adiknya. Untuk kali ini, akhirnya, aku memaki semesta.

Mas..” panggil Kyant menyadarkanku yang sedari tadi bungkam. “Mas udah nyampe mana? Kapan datengnya?”

“Ini mas udah naik bis. Hayo, kamu udah makan belum?”

“Belum. Aku mau makan gak enak.”

“Cepet makan. Kalo gak mau makan, mas gak jadi ke sana. Percaya deh, nanti waktu kamu selesai makan, mas pasti udah nyampe.

Mas mau nyampe ya?”

“Iya. Makanya, kamu makan dulu. Ya?”

“Iya.”

“Yaudah, minta makan sana sama bunda.” bujukku setelah berhasil memenangkan negosiasi dengan anak umur 4 tahun ini.

Bunda. Aku minta makan bunda!” Terdengar lagi riuhnya. Suara riangnya yang khas. Tergambar jelas, dia senang. Dia bahagia. Ini bukan bahagia semu yang menjadi bagian dari rayu. Karena aku tak sepenuhnya berbohong. Aku sedang berusaha. Entah nanti. Entah berapa matahari terbit lagi. Tapi yang pasti, aku akan datang. Aku akan, ‘pulang’.

Mas.

“Iya..”

“Nanti, kalo mas udah nyampe, kita main layangan ya?”


 

 

 TAMAT

Filed under Tulisan Yogiii